Shalat Wustha (Al-Baqarah 2:238)

 حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى

“Jagalah shalat-shalat kalian dan shalat Al Wustha.” [QS Al Baqarah: 238]

Bila kita melihat dari asal katanya, kata الوسطى (al wustha) merupakan bentuk muannats dari kata الأوسط (al awsath) yang artinya pertengahan. Pertengahan dari sesuatu maknanya adalah yang terpilih atau yang terbaik. Sebagaimana di dalam firman Allah ta’ala di dalam Al Quran:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا

“Demikianlah Kami telah menjadikan kalian sebagai umat yang terbaik.” [QS Al Baqarah: 143]

Adapun mengenai shalat Wustha itu sendiri, banyak pendapat yang berbeda di antara para sahabat Nabi. Zaid bin Tsabit mengatakan bahwa yang dimaksud sholat wustha adalah shalat dzuhur. Bagi Zaid, shalat dzuhur memiliki keutamaan dibandingkan shalat-shalat lainnya karena sholat dzuhur adalah shalat yang pertama kali difardhukan bagi umat Islam. Ali bin Abi Thalib berpendapat bahwa yang disebut shalat wustha adalah shalat Ashar. Pandangan Ali ini didasari hadits yang mengatakan bahwa shalat yang paling besar peluangnya untuk ditinggalkan adalah shalat wustha, dan shalat wustha itu adalah shalat ashar, hingga diperlukan penegasan secara khusus mengenai pentingnya shalat ashar.

Sebagian sahabat menyebutkan shalat wustha adalah shalat maghrib dengan alasan shalat maghrib adalah satu-satunya shalat yang bilangan raka’atnya ganjil. Hal ini menunjukan keutamaan dan keunikan shalat maghrib dibandingkan shalat lainnya. Ada pula sahabat yang mengatakan bahwa shalat wustha itu adalah shalat isya dengan argumentasi bahwa shalat isya adalah shalat yang berada di tengah-tengah (wustha) antara waktu shalat maghrib (menjelang malam) dan shalat subuh (menjelang pagi). Ibnu Abbas mengatakan bahwa shalat wustha adalah sholat subuh. Bagi Ibnu Abbas, shalat subuh adalah shalat yang dilakukan di pertengahan malam dan siang. Ada pula yang berpandangan bahwa shalat wustha adalah shalat Jum’at.

Berbeda dengan kalangan ulama tafsir dan fikih, para ulama tasawuf berpandangan bahwa shalat wustha bukanlah salah satu dari sholat lima waktu. Bagi mereka, shalat wustha adalah shalat bathin atau shalat ruhani. Syeikh Abdul Qodir Jailani memberikan ulasan yang cukup panjang mengenai shalat wustha. Bahkan dalam salah satu karyanya, Sirr al-Asrar wa Muzhir al-Anwar Fi Ma Yahtaju Ilaihi, Syeikh Abdul Qodir Jailani membahas secara khusus shalat wustha dalam satu bab. Bagi Abdul Qodir, dalam ayat 238 surat Al-Baqarah tersebut terdapat dua perintah. Pertama dalam kalimat Hafidzuu ‘ala ash-shalawati adalah perintah untuk memelihara shalat lahiriah dan dalam kalimat selanjutnya, wa ash-shalat al-wustha adalah perintah untuk memelihara shalat ruhani.

Karena hati terletak di tengah, yakni di tengah “diri”, maka dikatakan shalat wustha sebagai shalat hati. Tujuan shalat ini adalah untuk mendapatkan kedamaian dan ketentraman hati. Hati terletak di tengah-tengah, antara kiri dan kanan, antara depan dan belakang, atas dan bawah, serta antara baik dan jahat. Hati menjadi titik tengah, poin pertimbangan. Hati juga diibaratkan berada diantara dua jari Allah, dimana Allah membolak-balikkannya ke mana saja yang ia kehendaki. Maksud dari dua jari Allah adalah dua sifat Allah, yaitu sifat Yang Menghukum dan Meng-adzab dengan sifat Yang Indah, Yang Kasih Sayang, dan Yang Lemah Lembut.

Wallahu A’lam Bishawab

Di antara beberapa pandangan di atas, pendapat Ali bin Abi Thalib lah yang paling sering dikutip banyak orang. Adapun dalil-dalil yang dipakai adalah sebagai berikut:

 Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah SAW berkata pada hari perang Khandaq: “Mereka (kaum musyrikin) telah menyibukkan kita dari shalat Al Wustha, yaitu shalat Ashar. Semoga Allah memenuhi rumah dan kubur mereka dengan api neraka.” Kemudian Rasulullah melaksanakan shalat Ashar di antara dua shalat malam, yaitu antara Magrib dan Isya.” [HR. Al Bukhari (6396) dan Imam Muslim (627)].

Abdullah bin Mas’ud r.a, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Shalat Al Wustha adalah shalat Ashar.” [HR At Tirmidzi (181). Hadits shahih.]

Di antara keistimewaan shalat wustha atau shalat ‘ashar adalah:

  1. Shalat yang oleh Malaikat langsung dikabarkan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ketahuilah, bahwa ada 2 waktu dimana malaikat yang menyertai setiap manusia, akan naik ke atas langit dan mengabarkan kepada Allah ta’ala tentang apa yang kita lakukan saat itu. 2 waktu tersebut adalah waktu shubuh dan waktu ‘ashar.

Abu Hurairah r.a mengabarkan bahwa Nabi SAW bersabda… “ Para malaikat penyerta malam dan malaikat penyerta siang akan silih berganti mendatangi kalian. Mereka berkumpul pada saat shalat shubuh dan shalat ‘ashar. Kemudian malaikat  malaikat tersebut naik ke atas langit sehingga Allah ta’ala bertanya kepada mereka, “ dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba – hamba-Ku…?” (Allah ta’ala lebih tahu terhadap apa yang Dia tanyakan). Kemudian para malaikat menjawab,” Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat pula.”(HR. Al Bukhari, no. 555 dan HR. Muslim, no. 632)

Maka hendaknya seorang muslim yang baik menyegerakan mengerjakan shalat shubuh dan ‘ashar-nya di awal waktu.

  1. Shalat yang dengannya, Allah ta’ala akan berikan nikmat melihat dzat Allah tanpa berdesakan di Surga.

Adalah balasan surga dari Allah SWT setiap muslim yang hidup di dunia ini, yang bertauhid seutuhnya kepada-Nya. Dan kenikmatan terbesar yang akan didapati oleh para ahli surga adalah nikmat melihat dzat Allah ta’ala. Salah satu jalan pintas untuk mendapatkan kenikmatan tersebut adalah dengan menjalankan dengan segera shalat ‘ashar di awal waktu.

Jarir ibnu ‘Abdillah mengabarkan bahwa suatu malam, beliau pernah bersama Nabi SAW  yang ketika itu sedang melihat bulan purnama. Kemudian Nabi bersabda… “ Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini,.Dan kalian tidak akan saling berdesakan untuk meihatNya. Maka, jika kalian mampu untuk tidak terkalahkan dalam melaksanakan shalat sebelum terbit matahari (shubuh) dan menyegerakan shalat sebelum terbit matahari (‘ashar), maka lakukanlah…! Kemudian beliau membaca sebuah ayat…“ Dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya..” (QS. Qaaf : 39) (HR. Al Bukhari, no. 554 dan HR. Muslim, no. 633)

  1. Shalat yang bisa mengantarkan ke surga.

Abu Musa r.a mengabarkan bahwa Nabi SAW  bersabda… “ Barangsiapa yang mengerjakan shalat pada dua waktu (subuh dan ‘ashar) maka niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Al Bukhari, no. 574 dan HR. Musim, no. 635)

  1. Shalat yang oleh Rasulullah SAW dikerjakan selalu di awal waktu.

Anas r.a mengabarkan bahwa Nabi SAW biasa mengerjakan shalat ‘ashar di waktu matahari masih tinggi lagi terang dimana jika ada seorang pergi ke kampong ‘Awali, maka dia akan sampai di sana ketika matahari masih tinggi. (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Al Bukhari 550 yang tercantum di buku Fathul Baari, II/28)

Di antara ancaman bagi orang yang menyepelekan shalat ‘ashar ini adalah:

  1. Dosa orang yang meninggalkan shalat ashar seperti orang yang dikurangi (anggota) keluarganya dan seluruh harta bendanya.

‘Abdullah bin Umar r.a mengabarkan bahwa Nabi SAW bersabda. “ Orang yang tidak mengerjakan shalat ‘ashar adalah seperti yang dikurangi (anggota) keluarganya dan seluruh harta bendanya.” (HR. Muslim, no. 626 dan HR. At Tirmidzi, no. 113)

  1. Meninggalkan shalat ‘ashar akan menggugurkan seluruh amalan.

Dari Buraidah r.a bahwa Nabi SAW bersabda,” Barangsiapa yang meninggalkan shalat ‘ashar, maka gugurlah seluruh amalannya…!” (Hadits Shahih, An Nasa’I no. 497)

  1. Mengakhirkan shalat ‘ashar, adalah salah satu tanda orang munafik.

Banyak di antara kita yang tersibukkan urusan dunia sehingga merasa berat untuk melaksanakan shalat ‘ashar tepat di awal waktunya. Bahkan banyak pula di antaranya yang mengakhirkan shalat ini. Padahal andai kita semua tahu hadits ini…

Nabi SAW bersabda,” Itu adalah shalatnya orang munafik! Seseorang duduk – duduk dan mengamati matahari hingga apabila matahari berada di antara dua ujung tanduk syaithan, ia mengerjakan empat rakaat (shalat ‘ashar) dengan cepat, dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali hanya sedikit saja.” (Shahih, HR. Abu Dawud, no. 399 dan HR. An Nasa’I, I/254)

Jika keutamaan dan imbalan mengerjakan shalat wustha/ shalat ‘ashar tepat di awal waktu adalah sedemikian menggiurkan, mengapa kita masih berleha – leha dan bersantai untuk mengerjakannya…? Maka sunguh akan merugi orang yang demikian ini… Dan jika ancaman yang ditebarkan oleh Allah ta’ala bagi orang – orang yang lalai terhadap shalat ‘ashar adalah sedemikian kerasnya, maka apakah kita masih berniat menunda – nunda dan menganggapnya dengan sebelah mata…? Sungguh akan celakalah orang – orang yang semacam ini…

Sumber:

http://dakwahquransunnah.blogspot.ch/2013/06/makna-shalat-al-wustha.html#sthash.iMBAJOUT.dpuf

http://asnawiihsan.blogspot.ch/2008/08/mengurai-makna-sholat-wustho-dari.html

http://asnawiihsan.blogspot.ch/2008/08/mengurai-makna-sholat-wustho-dari.html

https://fitrahfitri.wordpress.com/2010/10/05/tahukah-anda-apa-itu-shalat-wustha/

Dirangkum oleh SHS

Advertisements
This entry was posted in Ayat Of The Day and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s